Minggu, 03 Februari 2013

KAMUS BAHASA ARAB ONLINE

Portal "almaany.com" merupakan kamus online bahasa Arab. Keunggunal portal ini dibanding dengan kamus portal lainnya, diantaranya, pertama, "almaany.com" didukung dengan enam bahasa asing, seperti Inggris, Prancis, Spanyol, Portugal, Turki dan Persia. Hanya dua bahasa yang bisa digunakan secara bergantian: Inggris-Arab, Persia-Arab. Kedua, tampilan bahasa portal bisa diubah sesuai enam bahasa di atas, tidak terbatas bahasa Arab. Ketiga, hasil pencarian seperti thesaurus, menampilan kosakata semakna (sinonim). Keempat, berbasis referensi kamus klasik dan modern. Kelima, hasil pencarian diklasifikasikan secara sistematis, (1) kelas kata (kata kerja, kata benda, kata sifat atau keterangan); (2) makna kata sesuai kelas kata; (3) sinonim dan istilah dengan penjelasan kategorinya. Keenam, tersedia laman istilah dalam bidang tertentu, seperti istilah kimia, kedokteran, dan lain-lain. Ketujuh, laman download kamus ebook. Kedelapan, forum diskusi, fungsinya mengakomodasi istilah kontemporer yang belum ditemukan dalam pencarian untuk didiskusikan dengan sesama pengguna.

SHOROF ONLINE


Ilmu shorof adalah ilmu yang mempelajari kaidah pembentukan dan perubahan kata. Salah satu metode dalam shorof adalah "tashrif lughowi"."Tashrif lughowy" menekankan perubahan pembentukan kata sesuai perubahan kata ganti (dhomir). Ringkasnya, "tashrif luhgowy" terjadi pada fi'il, baik madhi, mudhori' maupun 'amr. Situs "qutrub.arabeyes.org" memberikan kemudahan bagi pegiat dan pembelajar bahasa Arab untuk mengetahui "tashrif lughowy" secara efektif. Qutrub cukup handal untuk mengetahui fi'il dengan beragam bentuk, baik "tsulatsy" (tiga huruf), "ruba'iy" (empat huruf) maupun "khumasy" (lima huruf). Qutrub mudah untuk digunakan, cukup mengetikkan bentuk dasar dari fiil madhi (contoh غفر، استغفر) di kolom pencarian. Jika kata yang anda masukkan tidak sesuai dengan bentuk dasar tersebut, Qutrub akan memferivikasi dengan menampilkan beberapa kata alternatif yang mungkin Anda maksud. Selanjutnya, hasil pencarian akan menampilkan keterangan detail terkait: (1) transitif (muta'adi, membutuhkan objek/maf'ul) atau intransitif (lazim, tidak membutuhkan objek/maf'ul); (2) kategori fi'il sesuai jumlah huruf (tsulatsy, ruba'iy, khumasy): (3) tabel tashrif lughowi, terdiri atas fi'il madhi, fi'il mudhori' (rafa', nasab, jazm, nun taukid tsaqilah), dan fi'il 'amr.

Selasa, 20 November 2012

LA-TASKUT: KAMUS BAHASA ARAB KOMPREHENSIF



Oleh : K.H. Ahmad Warson Munawwir

الحمد لله، الحمد لله، الحمد لله
Bahasa, dalam pengertiannya yang paling mendasar, adalah bentuk ungkapan yang dipakai dan disepakati suatu kelompok masyarakat untuk menyampaikan maksud di antara mereka. Bahasa juga menjadi rumah pikir para penggunanya. Benarlah takrif yang berbunyi al insanu hayawanun natiqun, bahwa manusia adalah hewan yang berbicara/berpikir. Kata natiq diantaranya mengandung makna bicara dan logika. Maka, ketika berbahasa, seseorang sesungguhnya juga sedang berpikir. Sebaliknya pula, ketika berpikir, seseorang juga tengah berbahasa.
Sebagai perantara komunikasi, bahasa dibentuk melalui serangkaian proses budaya yang panjang. Secara umum, terdapat dua jenis budaya yang memengaruhi proses perkembangan sebagian besar jenis bahasa, yakni budaya lisan dan budaya tulisan. Perbedaan antara keduanya terletak pada ciri dan susunan ketatabahasaannya. Dalam budaya tulisan, bahasa biasanya lebih terstruktur karena baik penulis maupun pengguna berbahasa dalam suasana dan olah pikir yang tertata dan tertib. Dalam budaya tulisan lah, ilmu tentang gramatika yang membahas kaidah-kaidah tata bahasa berkembang pesat. Sedangkan dalam budaya lisan, bahasa cenderung digunakan secara spontan, datar, dan langsung. Karena itu, dalam budaya lisan lahir sekian banyak dialek yang berbeda-beda sekalipun masih dalam satu jenis bahasa.
Kenyataan-kenyataan semacam itu terjadi juga dalam bahasa Arab. Kita menjumpai pembedaan antara fusha (fasih) yang muncul sebagai akibat dari penggunaan bahasa tulisan dan ‘ammiyah (pasaran) yang terbentuk dari percakapan sehari-hari.
Adapun yang lazim dipelajari secara internasional, termasuk di sini adalah apa yang sekian lama diajarkan dan menjadi ciri pondok pesantren atau madrasah di Indonesia, adalah bahasa Arab fusha. Para santri sangat akrab dengan ilmu-ilmu semacam nahwu, sharf, dan balaghah. Kemampuan berbahasa arab secara gramatikal ini sangat penting artinya dalam memahami secara menyeluruh dan bertanggung jawab sumber-sumber Islam yaitu Al Quran dan Sunnah hingga Ijma’ dan Qiyas. Satu misal, proses penggalian hukum (istinbath) terhadap suatu perkara fiqh mustahil didapatkan dengan mengabaikan kemampuan gramatikal tersebut.
Bahasa Arab ‘ammiyah juga berkembang seturut dengan berkembangnya kebudayaan Arab sendiri. Hanya saja, perkembangan itu berlangsung dengan sangat cair sehingga dialek orang Saudi, misalnya, berbeda dengan dialek Mesir. Biasanya pula, seseorang baru mungkin menguasainya bila bermukim di salah satu negara Arab.
Saya turut berbahagia dengan terbitnya buku “Lâ Taskut!” (yang berarti “Jangan Diam”) yang disusun oleh Mishbah Khoiruddin Zuhri dan Muhammad Shobirin Suhail. Buku ini melengkapi kepustakaan tentang bahasa Arab dari sisi budaya lisannya. Buku-buku serupa, yang membahas percakapan sehari-hari, selama ini sudah banyak beredar namun umumnya sebatas ungkapan-ungkapan praktis.
Kelebihan “Lâ Taskut!” terletak pada usaha dua penyusun dalam melakukan sistematisasi pembahasan. Jika buku-buku serupa sebelumnya cenderung disusun berdasar tempat (makaniy), seperti percakapan di rumah, bandara, kantor dan sebagainya, buku ini menyajikan percakapan Arab secara tematis (maudlu’iy) dengan metode dan pola yang beragam. Pada masing-masing bab, disediakan dua jenis ungkapan dalam bentuk fusha dan ‘ammiyah. Ini memudahkan pembaca untuk mengenali antara ungkapan-ungkapan standar yang resmi dengan ungkapan-ungkapan yang tidak baku namun populer. Adapun, pilihan terhadap dialek Mesir, kiranya tepat karena dialek ‘ammiyah di Mesir lebih kompleks dibanding negeri-negeri Arab lainnya.
Dalam hemat saya, buku ini cukup membantu mereka yang menggeluti bahasa ‘Arab baik untuk kepentingan rihlah (kunjungan), studi ataupun profesi. Seperti diketahui, jumlah orang Indonesia yang pergi ke negara-negara Arab sangat tinggi. Jama’ah haji, TKI, hingga pelajar biasanya mula-mula dihadapkan pada kesulitan untuk berkomunikasi dalam bahasa ‘Arab lisan. Bahkan, mereka yang sudah menguasai gramatika ‘Arab pun tak jarang sulit berkomunikasi secara aktif. Buku ini kiranya cukup membantu mengurangi kesulitan itu.
Akhirul kalam, semoga penerbitan buku ini bisa bermanfaat bagi masyarakat luas.

Krapyak, 22 Mei 2009

PASIR BERBISIK DI Al-GHARIYA




Pasir putih. Ombak bergelombang kecil. Air yang bening. Gubuk-gubuk yang teduh. Suasana tersebut menyambut kedatangan kami di pantai Al-Ghariya. Pantai teretak di bagian utara Qatar, berjarak 97 KM dari ibukota Qatar, Doha. Jarak tempuh selama 1 jam perjalanan. Rutenya, dari doha menuju Shamal road sampai ke jalan keluar (exit) nomor 83. Setelah sampai exit 83, belok kanan, kemudian ambil arah lurus sampai pantai.
Di Pantai Al-Ghariya, pengunjung diberi tiga pilihan tempat; keluarga; publik dan resort. Pertama, pantai untuk keluarga. Hanya keluarga yang diperbolehkan masuk. Lajang tidak diperkenankan, kecuali bersama rombongan keluarga. Pantai ini dikelola oleh kementerian pariwisata Qatar. Pengunjung mendapatkan fasilitas tenda. Ada sekitar 10 tenda dengan kapasitas 15-20 orang. Tenda beratap daun kurma. Selain itu terdapat tempat shalat, toilet, tempat parkir dan lapangan sepak bola. Pantai keluarga di Al-Ghariya berjarak 500 meter ke arah utara dari pantai umum. Tidak dipungut biaya, kecuali jika ada perusahaan yang bermaksud menyewa tempat tersebut, ada biaya kebersihan sebesar QR 200. Di pantai al-Ghariya khusus keluarga, pengunjung bisa melakukan pelbagai aktivitas. Diantaranya bersantai, bermain pasir, berenang, memancing, membakar ikan dan lain sebagainya. Bahkan tidak jarang, beberapa komunitas mengadakan lomba seperti tarik tambang, lomba makan donat tergantung, berebut menangkap koin yang dilempar ke dalam air dan lain-lain. Pengunjung boleh sampai larut malam hingga pukul 1 dini hari dan tidak diperkenankan menginap.
Kedua, pantai al-Ghariya untuk publik. Pantai ini terbuka untuk umum, lajang maupun berkeluarga. Jika di zona keluarga luasnya terbatas, karena dibatasi oleh pagar, maka di zona publik terbuka luas. Pengunjung akan menjumpai tenda-tenda di tepi pantai. Tenda tersebut dibangun oleh penduduk setempat untuk menyambut musim semi. Zona publik tidak kalah indahnya. Disana pengunjung dimanjakan dengan bentangan garis pantai yang lebih luas, pilihan kedalaman air yang lebih beragam. Namun, disini tidak tersedia tempat shalat dan toilet umum. Meski tidak ada lapangan sepak bola, pengunjung bisa memanfaatkan hamparan pasir dengan membuat gawang untuk sepak bola atau mendirikan net untuk bermain voli pantai.
Ketiga, al-Ghariya resort. Letaknya berdekatan dengan zona publik. Tempat ini sudah dikelola dengan profesional. Ada beberapa fasilitas yang memadai. Mulai penginapan, vila, restaurant, kolam renang dengan kontrol temperatur suhu air, permainan pantai, lapangan sepak bola, tempat memancing dan kereta wisata mengitari resort.
Beberapa hal yang butuh diperhatikan. Antara lain (1) hati-hati di jalan Shamal, karena rawan kecelakaan, banyak kendaraan dengan kecepatan tinggi, khususnya malam hari. Penulis hampir tertimpa tandon air jumbo yang jatuh dari mobil pick-up, untungnya kendaraan penulis ada di lajur yang berlainan. (2) Jika anda berencana menuju zona publik, ada baiknya menyiapkan tenda darurat sebagai pengganti toilet, membawa tikar dan kebutuhan makan. (3) Pilihlah saat yang tepat. Hal ini sangat penting karena akan menambah kenyamanan dan kenikmatan wisata Anda. Sebaiknya berangkat setelah pagi-pagi atau setelah dzuhur, sehingga sesampai disana Anda akan menemukan udara yang sejuk. Bulan September sampai Februari adalah saat yang tepat untuk mengadakan agenda di luar ruangan, termasuk di pantai. Selamat berlibur.

Rabu, 26 Mei 2010

LA-TASKUT: Buku Bahasa Arab untuk Semua Prof. Dr. Anik Ghufron (Guru Besar Ilmu Pendidikan UNY, Yogyakarta)



Ketika penyusun buku ini meminta saya memberi kata pengantar, saya tertarik dengan judul buku yang ditawarkan: “Lâ-Taskut!”, jangan diam! Ada pertanyaan, kenapa judulnya berbentuk larangan (Nâhy), larangan untuk tidak bersikap pasif atau diam dalam berkomunikasi? Apa yang hendak ditawarkan buku“Lâ-Taskut!”? Satu hal yang ditegaskan secara eksplisit oleh penyusun adalah pentingnya inovasi dalam pembelajaran bahasa Arab, khususnya dalam metode percakapan (Muhâdatsah). Bahasa Arab bisa dipelajari oleh siapapun, bahasa Arab untuk semua.
Sementara ini, bahasa Arab dipelajari oleh kalangan terbatas; para santri di pondok pesantren, siswa madrasah, dan mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam. Sementara pihak lain yang tidak memiliki latar belakang pendidikan agama masih merasa sulit mempelajarinya.
Saya teringat sebuah diskusi dengan para lulusan pesantren salaf dan modern. Sebuah obrolan tentang sistem pembelajaran bahasa arab. Keduanya mempunyai keunggulan dan keterbatasan. Pesantren salaf memiliki keunggulan dalam mengeksplorasi referensi kitab dengan bekal pengetahuan gramatika yang memadai. Sementara pesantren modern unggul dalam komunikasi aktif.
Ketertarikan saya tidak terhenti pada perbedaan output, tapi juga pada semangat dan upaya kedua belah pihak dalam meningkatkan kualitas muhâdatsah. Salah satunya dengan mendatangkan native speaker guna menunjang program berbahasa Arab, serta mengirimkan lulusannya ke negara-negara Timur Tengah. Semuanya memberi kontribusi yang besar bagi pengembangan bahasa Arab.
Beberapa sekolah—Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, ‘Aliyah, dan perguruan tinggi Islam—telah memberlakukan wajib berbahasa Arab yang disertai dengan pemberlakuan zona bahasa. Secara formal, peraturan tersebut cukup ideal. Namun dalam praktiknya aturan itu sulit diterapkan. Kendala yang timbul antara lain; keterbatasan pengetahuan siswa dalam bahasa Arab, minimnya kesadaran akan pentingnya penggunaan bahasa Arab, belum tersedianya buku panduan muhâdatsah yang representasif, serta pengaruh lingkungan yang mayoritas menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah dalam berkomunikasi sehari-hari. Di samping itu, tata tertib yang mengatur penggunaan bahasa yang ada terkadang belum ditunjang dengan sistem reward dan punishment. Sehingga program berbahasa belum berjalan secara optimal.
Untuk meminimalisir problem tersebut, khususnya yang terkait dengan peningkatan partsipasi aktif dalam berkomunikasi, ada beberapa formula yang perlu diterapkan, yakni;
Pertama, memberikan pandangan bahwa bahasa Arab itu mudah. Ini bukan bermaksud menyederhanakan permasalahan, tetapi untuk membangun sebuah persepsi bahwa bahasa itu bisa dipelajari dan mudah dipahami. Bukannya ditakuti selanjutnya dihindari. Yang dibutuhkan adalah keuletan serta pembiasaan (Mumârasah) dalam menggunakannya sehari-hari.
Kedua, pembelajaran bahasa Arab bukan hanya berupa presentasi materi an sich, akan tetapi bagaimana materi tersebut ditransmisikan ke peserta didik yang menjadikan paham. Tidak sekedar mendengarkan. Sebab, seringkali mereka mengeluh kesulitan, tetapi tidak berani bertanya. Sementara materi terus berlanjut, sehingga kebingungan semakin menumpuk. Ini perlu diatasi dengan sistem pembelajaran yang interaktif; guru menyampaikan materi, siswa memperhatikan dan memahaminya. Apabila ada materi yang tidak dipahami hendaknya guru memancing pertanyaan yang mengarah ke sana. Kemudian apabila diperlukan, keterangan bisa diulang untuk lebih memahamkan peserta didik.
Ketiga, memperjelas orientasi dan motivasi dalam belajar bahasa Arab. Ke manakah arah pembelajaran bahasa Arab ditujukan; untuk membantu memahami naskah, media komunikasi, atau profesi? Selama ini, motivasi belajar bahasa Arab dilandasi dalil normatif; bahasa Arab adalah bahasa al-Qur’an dan bahasa penduduk surga! Akan lebih menarik tentunya, apabila motivasi mempelajarinya adalah untuk menjadi jubir bahasa Arab, menulis buku berbahasa Arab, melanjutkan studi dan menjadi tenaga kerja di Timur Tengah, menjadi mufassir atau ilmuwan, penerjemah buku, ataupun penerjemah fauriyah (spontan). Sebuah motivasi yang mampu menggugah semangat berbahasa.
Keempat, membangun mentalitas. Dalam berbicara mutlak harus didukung dengan keberanian. Berani untuk selalu mencoba terus-menerus. Kesalahan bukan menjadi hal yang perlu ditakuti, tapi sebagai evaluasi. Sikap minder (inferior) harus dihindari. Percaya diri dan optimislah selalu. Sebab, setiap orang dianugerahi kesempatan yang sama untuk terampil, termasuk terampil dalam berkomunikasi bahasa Arab.
Kelima, membangun lingkungan berbahasa Arab (zona bahasa). Harus disadari bahwa kita mempelajari bahasa Arab di lingkungan yang bukan merupakan tempat bahasa tersebut lahir dan berkembang. Maka dibutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk lancar berbicara. Ini harus dimaklumi. Maka dengan dibentuknya zonase bahasa Arab, penggunaan bahasa Arab akan menjadi terbiasa. Ini harus dimulai dari individu. Jika dengan kesadaran individu tersebut mampu merambah kesadaran kolektif untuk berbahasa, niscaya dalam waktu relatif singkat kita mampu, tanpa harus studi ke luar negeri.
Keenam, inovasi, baik dalam metode maupun sistem. Dalam konteks ini, buku “Lâ-Taskut!” menyuguhkan sebuah inovasi yang apik dalam khazanah pembelajaran bahasa Arab. Tidak hanya secara sistematika, tapi juga isi dan metode yang digunakan.
Dalam hal sistematika, “Lâ-Taskut!” menggunakan cara penyajian yang berbeda. Percakapan disusun secara tematik sesuai dengan konteks dilakukannya percakapan tersebut. Pembagian tema percakapan sebagian besar tidak didasarkan atas tempat tertentu. Hal ini memudahkan pembaca untuk langsung mempraktikan percakapan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya. Apalagi penyusunannya dilengkapi dengan pola, variasi, ekspresi, dan transliterasi, sehingga semakin praktis. Bisa digunakan oleh siapapun dengan mudah.
Bila ditilik dari segi isi, buku ini memiliki nilai lebih. Tidak semata-mata mengetengahkan bahasa Arab fushâ, tetapi juga dilengkapi dengan bahasa ‘âmiyah (Colloquial Arabic) berikut budaya bahasa. Pembaca diajak mengenal khazanah bahasa Arab yang kaya. Ini akan memperkaya pengetahuan pembaca mengenai setting budaya bangsa Arab. Terasa lengkaplah bagi pembaca. Tak salah jika buku ini diberi judul “Lâ-Taskut!”. Selain menawarkan metode inovatif, praktis, dan komprehensif, buku ini juga memotivasi untuk selalu bicara.“Lâ-Taskut!” untuk semua, bahasa Arab untuk semua.

Yogyakarta, 24 Mei 2009